Siaran Pers

Dua Tahun Mendampingi PKK Sukamakmur, UT Bersama Warga Rancang "Arisan Sabun" untuk Ketahanan Keluarga

3 November 2026Dipublish oleh: Mahdy Eka Putra
Foto bersama tim PkM Universitas Terbuka dengan pengurus dan anggota PKK Desa Sukamakmur di Balai Desa
Foto bersama tim PkM Universitas Terbuka dengan pengurus dan anggota PKK Desa Sukamakmur seusai Evaluasi dan FGD di Balai Desa Sukamakmur.

Bogor, 28 Oktober 2026. Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Terbuka (UT) menyelenggarakan Evaluasi dan Diskusi Kelompok Terarah (FGD) bersama pengurus dan anggota PKK, perangkat desa, serta pengurus BUMDes Desa Sukamakmur di Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor, di Balai Desa Sukamakmur pada hari Rabu (28/10/2026). Kegiatan ini menandai akhir dua tahun program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang berfokus pada pendampingan keterampilan pembuatan produk kebersihan ramah lingkungan untuk memperkuat ketahanan keluarga.

Ikhtisar Kegiatan

Waktu

Rabu, 28 Oktober 2026

Tempat

Balai Desa Sukamakmur, Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor

Peserta

Pengurus dan anggota PKK, perangkat desa, serta pengurus BUMDes Desa Sukamakmur

Agenda

Evaluasi dan FGD penutup dua tahun program PkM pendampingan produk kebersihan ramah lingkungan

Dua Tahun Pendampingan Keterampilan

Selama dua tahun, tim PkM UT mengajarkan ibu-ibu PKK cara membuat tempe, pupuk organik cair (POC), komposter, eco-enzyme, deterjen cair, sabun cuci piring, sabun pembersih lantai, dan sabun mandi cair, serta mengadakan sosialisasi tentang ketahanan keluarga dan keberlanjutan lingkungan.

Yang dipelajari ibu-ibu PKK selama dua tahun

TempePupuk organik cair (POC)KomposterEco-enzymeDeterjen cairSabun cuci piringSabun pembersih lantaiSabun mandi cairSosialisasi ketahanan keluarga dan keberlanjutan lingkungan
Suasana Evaluasi dan FGD bersama PKK Desa Sukamakmur di Balai Desa
Suasana Evaluasi dan FGD bersama pengurus dan anggota PKK Desa Sukamakmur di Balai Desa Sukamakmur.

Hasil Evaluasi dari Peserta

Selama evaluasi, para peserta menyampaikan pendapat tentang pengalaman selama kegiatan pendampingan, beberapa pertanyaan yang mewakili perasaan dan kendala dituliskan dalam metaplan. Temuan menunjukkan pelatihan meningkatkan pemahaman mereka mengenai proporsi pembuatan produk. Ibu Neneng, misalnya, kini mampu membuat sabun sendiri dan sudah tidak lagi membeli detergen selama sebulan terakhir. Ibu Titin dan Ibu Nia melaporkan bahwa produk buatan mereka dapat bertahan pakai lebih dari 14 hari, lebih tahan lama dibandingkan detergen sachet. Dua peserta lainnya sudah membuat ecoenzyme di rumah secara mandiri. Hambatan utama yang disebutkan adalah biaya bahan baku, yang dianggap belum sebanding dengan anggaran. Peserta juga menginginkan waktu pendampingan tambahan agar materi dapat dipahami lebih baik.

Capaian

Pemahaman proporsi pembuatan produk meningkat. Ada peserta yang sudah sebulan tidak membeli detergen, produk buatan sendiri bertahan lebih dari 14 hari, dan dua peserta membuat eco-enzyme secara mandiri.

Kendala

Biaya bahan baku belum sebanding dengan anggaran, dan peserta menginginkan waktu pendampingan tambahan.

Kanvas Keberlanjutan dan "Arisan Sabun"

Selain mengevaluasi kegiatan pengabdian dalam FGD yang diselenggarakan juga bertujuan untuk merumuskan perencanaan keberlanjutan, para peserta merancang Kanvas Keberlanjutan yang mencakup permulaan program "Arisan Sabun", yakni pembuatan sabun kolektif oleh kelompok PKK guna mendongkrak perekonomian para anggotanya. Rincian sistemnya meliputi:

  • Pendanaan bahan baku bersumber dari kontribusi anggota PKK yang dipukul rata berdasarkan keperluan modal.
  • Pembagian kerja diatur berdasarkan kelompok kerja (pokja), disertai penunjukan pengurus khusus dari utusan pokja.
  • Pembuatan produk dikerjakan secara bersama-sama sebulan sekali.
  • Output produksi dibagikan secara adil berdasarkan kesepakatan bersama.
  • Pihak pemdes diharapkan untuk memfasilitasi lokasi di Balai Desa.

Ide Kemasan dan Usaha Frozen Food

Diskusi berlangsung hidup dan penuh ide. Para peserta antusias mengusulkan berbagai model kemasan, mulai dari tipe rencengan yang efisien serta ramah lingkungan, hingga kemasan botol berukuran setengah sampai satu liter yang ekonomis. Seluruh usulan ini nantinya akan disempurnakan melalui analisis biaya pembuatan.

Selain sabun, para anggota memaparkan gagasan bisnis frozen food dengan mendayagunakan alat-alat masak berkapasitas besar sumbangan dari UT. Mereka turut mengajukan pengadaan lemari pembeku (freezer), yang mana tahap penjualan perdananya akan menyasar warung-warung di sekitar lokasi. Peserta juga sangat mengharapkan tim PkM UT tetap menyediakan materi, inovasi, serta dukungan agar Desa Sukamakmur terus berkembang.

© Fakultas Sains dan Teknologi - UT